Global Green Growth Institute (GGGI) dan Dewan Nasional KEK Kerja Sama Untuk Lakukan Green Growth Assessment Di KEK Sei Mangkei

Global Green Growth Institute (GGGI) dan Dewan Nasional KEK Kerja Sama

Jakarta, 2 Maret 2017 – Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan Global Green Growth Institute (GGGI) telah melakukan kerja sama sejak tahun 2015. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan pada 2016 dan 2017 adalah Technical Assessment of Green Growth Policy Options and Investment Opportunities in Special Economic Zones (SEZ) Indonesia yang dilakukan dengan lokus KEK Sei Mangkei.


Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Sekretaris Dewan Nasional KEK, Wakil Ketua III Tim Pelaksana dan perwakilan GGGI, dipaparkan beberapa rencana kegiatan kerja sama yang akan dikembangkan, antara lain Green SEZ Guidelines yang dikembangkan untuk dapat diaplikasikan ke dalam KEK Indonesia. Instrumen kebijakan yang akan diterapkan di tingkat nasional ini diharapkan dapat mengurangi manajemen resiko dan menghasilkan investasi yang lebih baik, dan proyek infrastruktur hijau di satu KEK atau lebih didesain agar lebih layak secara finansial.

 

Sei Mangkei adalah KEK pertama yang sudah beroperasi dan memiliki 2 kegiatan utama, yaitu industri yang berbasis kelapa sawit dan karet. Terdapat empat aspek yang direncanakan akan diintervensi oleh GGGI, yaitu pembangkit listrik, pengolahan limbah, rel kereta api dan pengelolaan perkebunan. Dengan adanya intervensi GGGI maka diharapkan akan meningkatkan produktivitas industri yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan ekologi.


“Diperlukan rekomendasi umum untuk KEK hijau yang dapat diadopsi bagi seluruh kawasan” tanggap Budi Santoso, Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK. Ia menyatakan betapa krusialnya isu limbah bagi Indonesia karena pencemaran di satu kawasan memberi dampak bagi kawasan lain. Selain itu, limbah juga telah menjadi faktor yang paling menarik dari perusahaan oleochemical.


“Lokasi pembuangan sangat terkait dengan spatial planning. Demand datang dari kawasan di luar KEK, oleh sebab itu rencana pengolahan limbah juga harus melibatkan kawasan lain seperti Aceh, Riau dan sebagainya” kata Enoh Suharto Pranoto, Sekretaris Dewan Nasional KEK. Pengolahan limbah yang berbahaya telah menjadi beban untuk Indonesia, oleh sebab itu diperlukan manajemen pengolahan limbah yang efisien dan ramah bagi investor.


Pembangkit listrik juga menjadi aspek penting dalam KEK Sei Mangkei mengingat bertambahnya jumlah tenant juga akan meningkatkan kebutuhan energi listrik di kawasan tersebut. “Listrik sebesar 250 MW akan menjadi kritis pada tahun 2020 nanti, oleh sebab itu dibutuhkan perencanaan penyediaan energi yang berkelanjutan” kata Edib Muslim, Tenaga Ahli Sekretariat Dewan Nasional. Ia juga mengingatkan pentingnya konstruksi sosial dalam penerapan KEK hijau di Sei Mangkei.


Langkah lanjut dari pertemuan ini adalah diadakannya Focus Group Discussion (FGD) dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan di Sei Mangkei, Medan. Diharapkan rekomendasi dan usulan proyek dari GGGI akan menciptakan iklim investasi yang lebih baik serta mendukung terciptanya KEK hijau di Indonesia (ARS)