Berita

14 Negara Belajar tentang Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia

Kunjungan ke KEK

Jakarta – Selain menjalankan fungsi sebagai fasilitator, Sekretariat Dewan Nasional (DN) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga menjalankan fungsi promosi kepada berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Kunjungan yang diprakarsai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) ke kantor Sekretariat DN KEK merupakan sebuah peluang yang sangat baik untuk meningkatkan gaung KEK Indonesia di dunia internasional. Kunjungan tersebut merupakan sebuah study mission yang diikuti oleh perwakilan pemerintah dari 14 negara dan menjadi bagian dari Knowledge Co-creation training program mengenai pengembangan KEK dan Zona Industri. Tujuan dari study mission tersebut adalah memperoleh informasi dan berbagi pengalaman mengenai perkembangan KEK di Indonesia.

KEK Pariwisata dan Industri Indonesia

Perwakilan pemerintah tersebut antara lain berasal dari negara Afrika Selatan, Nigeria, Zimbabwe, Ethiopia, Mauritania, Palestina, Iran, Honduras, Meksiko, Brazil, Kuba dan Yordania. Dibuka oleh Bambang Wijanarko sebagai Pelaksana Tugas Kepala Bagian Pengelolaan Informasi, pertemuan tersebut berlangsung dengan para peserta aktif memberikan beberapa topik pertanyaan, antara lain mengenai regulasi dan kelembagaan, pengusulan KEK, infrastruktur, investasi, fasilitas dan insentif hingga supply chain management di KEK.

Peserta dari Yordania bertanya mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan KEK Indonesia. “Proses pengadaan tanah merupakan tantangan awal bagi KEK” jawab Bambang Wijanarko. Proses pengadaan tanah membutuhkan beberapa tahapan dengan waktu yang berbeda antara suatu kawasan dengan kawasan lainnya. Oleh sebab itu, pemerintah membuat regulasi khusus di bidang pertanahan, yaitu Undang Undang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum serta regulasi di sektor lainnya untuk mendukung pelaksanaan KEK. “Sinkronisasi hard and soft infrastructure di saat yang bersamaan juga merupakan tantangan yang besar” jawab Bambang Wijanarko. Ia menekankan bahwa ketersediaan soft infrastructure, terutama sumber daya manusia dan teknologi juga sama pentingnya dengan ketersediaan hard infrastructure. Keterlibatan masyarakat setempat telah menjadi perhatian khusus dalam mengembangkan KEK Indonesia, oleh sebab itu, perlu pendekatan dan komunikasi yang tepat agar masyarakat mendukung KEK di wilayanya. Dari sektor hard infrastructure, pemerintah memiliki Proyek Strategis Nasional dimana dukungan terhadap infrastruktur di luar kawasan menjadi fokus utama pemerintah.

Sedangkan peserta dari Brazil bertanya mengenai strategi untuk menarik investasi di KEK Indonesia. “11 KEK ditargetkan dapat menarik investasi hingga Rp 726 triliun hingga 2030” jawab Edib Muslim, Tenaga Ahli Sekretariat DN KEK. Terdapat fasilitas dan insentif untuk menarik investor, dan pemerintah memberikan kesempatan penuh untuk swasta terlibat dalam mengembangkan KEK, baik sebagai pelaku usaha (tenant), pendukung atau penyedia infrastruktur dan dalam operasionalisasi KEK itu sendiri. Public Private Partnerships juga diharapkan dapat memfasilitasi penyediaan infrastruktur oleh sektor swasta.

Struktur kelembagaan juga menjadi perhatian dan perbandingan para peserta study mission ini, karena tentu setiap negara memiliki struktur kelembagaan yang berbeda untuk melaksanakan KEK. Oleh sebab itu, komitmen dan konsistensi pemerintah baik pusat dan daerah sangat diperlukan.

Kunjungan peserta JICA Knowledge Co-creation Program diharapkan dapat memberikan manfaat positif bagi kedua pihak dan membangun kerjasama awal yang baik di masa yang akan datang (ARS).

Japan External Trade Organization Akan Promosi Peluang Investasi KEK Sei Mangkei Kepada Investor Potensial Jepang

Sei Mangkei, Dibuka oleh Sekretaris Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Enoh Suharto Pranoto dan Senior Vice President PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, Alexander Maha, diadakan pertemuan untuk menyambut kunjungan lapangan Japan External Trade Organization (JETRO) ke KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara. JETRO sebagai organisasi di bawah pemerintah Jepang yang bergerak di bidang perdagangan dan investasi diharapkan dapat memperoleh informasi tentang peluang investasi di kawasan tersebut, sehingga dapat mempromosikan langsung kepada investor potensial Jepang ke KEK Sei Mangkei. Dilaksanakan di kantor pengelola KEK Sei Mangkei, turut hadir dalam pertemuan ini PT Prima Multi Terminal (PMT), Pelindo I, Balai Kereta Api bagian Sumatera Utara dan Administrator yang menjalankan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu di KEK.

Doc. Kunjungan KEK Sei Mangkei.

 

Gambar 1. Pertemuan di kantor Administrator KEK Sei Mangkei untuk promosi peluang investasi kawasan di KEK Sei Mangkei

Ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2012, KEK Sei Mangkei merupakan KEK pertama yang beroperasi di Indonesia. PTPN III sebagai Badan Usaha Pembangun dan Pengelola KEK Sei Mangkei menyampaikan perkembangan investasi terkini dari kawasan tersebut, dimana telah dilakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan PT Alternative Protein Indonesia pada Mei 2017. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke PT Unilever Oleochemical Indonesia (PT UOI), anchor tenant di KEK Sei Mangkei yang menghasilkan oleokimia dari kelapa sawit. Dengan luas lahan sebesar 27 ha, perusahaan di bidang consumer goods ini fokus pada produksi fatty acid, surfactant, glycerin dan dove noodles yang 85% diekspor ke pabrik Unilever lainnya di luar negeri, terutama India dan negara-negara di Asia Tenggara. PT UOI saat ini memperkerjakan lebih dari 500 orang yang 80% berasal dari Pulau Sumatera.

Doc. Kunjungan KEK Sei MangkeiGambar 2. Site visit ke PT Unilever Oleochemical Indonesia di KEK Sei Mangkei

PT UOI yang mulai beroperasi secara komersial pada September 2015 menyatakan bahwa investasi senilai USD 1 miliar telah terpenuhi. Perusahaan kini sudah berjalan dengan kapasitas penuh dan hal ini didukung dengan air dan listrik yang sudah memadai di KEK Sei Mangkei. “Akan sangat baik apabila banyak industri bertumbuh di KEK Sei Mangkei” ungkap Endy Julisetiawan yang merupakan Senior Manufacturing Leader dari PT UOI. Ia mengungkapkan bahwa adanya industri komplementer akan mendukung aktivitas bisnis perusahaan tersebut.

Produktivitas dan aksesibilitas KEK Sei Mangkei juga akan didukung dengan adanya pengembangan Pelabuhan Multipurpose Kuala Tanjung oleh Pelindo I, dan dibangun oleh PT PMT. Selain itu, akan ada exit and entry point dari pelabuhan ini untuk langsung ke kota Medan. Jalur kereta api single track Bandar Tinggi – Kuala Tanjung sepanjang 46,5 km yang akan menghubungkan KEK Sei Mangkei diharapkan selesai pada akhir 2017 dan beroperasi penuh pada 2018. “Pemerintah Indonesia sangat berkomitmen untuk membangun KEK Sei Mangkei” tegas Enoh Suharto kepada JETRO.

Doc. Kunjungan KEK Sei Mangkei..

Gambar 3. Kunjungan ke Pelabuhan Multipurpose Kuala Tanjung yang dalam tahap 1 pembangunan

Dengan misi untuk mempromosikan investasi kepada calon investor Jepang, diharapkan JETRO dapat memperoleh informasi menyeluruh dari para stakeholders KEK Sei Mangkei. “Investor Jepang memiliki minat investasi yang besar di bidang teknologi tinggi” ungkap Daiki Kasugahara, Presiden Direktur JETRO. Ia juga menyatakan minat investasi Jepang saat ini besar di bidang agrikultur dan pengolahan perikanan yang merupakan keahlian mereka. KEK Sei Mangkei dinilai memiliki lokasi yang sangat strategis dengan ASEAN Economic Community. Pertemuan dan kunjungan lapangan ini diharapkan dapat menjadi instrumen yang tepat bagi JETRO untuk pengumpulan data dan informasi untuk menyampaikan peluang bisnis kawasan ini kepada para investor Jepang.

Enoh Suharto juga menyatakan bahwa proses investasi akan didampingi oleh Administrator KEK Sei Mangkei sehingga investor memperoleh kemudahan dalam berinvestasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Help desk Sekretariat Dewan Nasional KEK juga akan siap membantu memfasilitasi proses ini selama masa transisi.

Dengan adanya kunjungan ke KEK Sei Mangkei, diharapkan minat investasi perusahaan Jepang yang sebelumnya hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, dapat dikembangkan ke Pulau Sumatera dan wilayah lain yang memiliki potensi sesuai wilayahnya. “Diharapkan KEK Sei Mangkei dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru sehingga ada keseimbangan kemakmuran antara satu pulau dengan pulau lainnya di Indonesia” ungkap Enoh Suharto menutup pertemuan ini (ARS)

KEK Tanjung Kelayang, Kelas Dunia Namun Inklusif

dok. 2

Jakarta – Sebagai bagian dari langkah pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang telah memperoleh penetapan Pemerintah, pada 8 Juni 2017 Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi Rosman dan Bupati Belitung Sahani Saleh, menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman investasi untuk KEK Tanjung Kelayang, yang berlokasi di Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung.

Tiga investor asing tersebut adalah China Harbour Engineering Company, PT Accor Asia Pacific Corporation Indonesia dan Starwood Asia Pacific Hotels and Resorts. Belitung Maritime sebagai konsorsium pengelola KEK Tanjung Kelayang beranggotakan 5  (lima) perusahaan yaitu:  PT Belitung Pantai Intan (Belpi), PT Bumi Belitung Indah, PT Nusa Kukila, PT Tanjung Kasuarina, dan PT Sentra Gita Nusantara.

Kesepahaman pertama dilakukan antara PT Belitung Pantai Intan dengan China Harbour Engineering Company, yang akan melakukan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Kelayang dengan perkiraan nilai investasi sebesar 1 miliar Dollar AS. Masuknya investasi China Harbour di Tanjung Kelayang merupakan perwujudan minat investasi korporasi internasional terhadap potensi kepariwisataan dan posisi geostrategis Bangka Belitung.

Nota kesepahaman kedua dilakukan antara PT Hypatia Karya Pratama dengan PT Accor Asia Pacific Corporation (AAPC) Indonesia. PT AAPC Indonesia bermaksud membangun Sofitel Hotel and Resort di KEK Tanjung Lesung dengan rencana investasi sebesar Rp 400 miliar. Ketiga, kesepahaman investasi dilakukan antara PT Setra Gita Nusantara dengan Starwood Asia Pacific Hotels and Resorts. Starwood Asia Pacific Hotels and Resorts akan membangun Sheraton Hotel di kawasan dengan rencana investasi sebesar Rp 418 miliar.

KEK Tanjung Kelayang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2016, pada 15 Maret 2016, dengan luasan 324,4 ha. Konsorsium Belitung Maritime menjelaskan bawa Kawasan Tanjung Kelayang akan dibangun secara bertahap, dengan dilandasi oleh konsep “heritage”. Pada tahap I yang telah ground breaking, sedang dibangun The Kapitein House resort, dengan target beroperasi 17 Agustus 2018, bertema “Indonesia Heritage at Dutch Era” seluas 7,4 hektare. Selanjutnya di tahap II akan dibangun dengan konsep “Kota Agung yang Sirna, berdesain “Majapahit Heritage” seluas 25,38 hektare.

Ketua Dewan Nasional KEK Darmin Nasution menyambut baik rencana investasi di KEK Tanjung Kelayang. Dia mengungkapkan, KEK di Kabupaten Belitung ini merupakan yang tercepat prosesnya karena memiliki potensi yang sangat bagus dan persyaratan terpenuhi. Tidak heran jika kini dua hotel mewah akan segera dibangun di kawasan tersebut. ”Waktu itu kami di Dewan Nasional KEK sangat antusias mendukung penetapan KEK Tanjung Kelayang, lahannya sudah ada. Kita ajukan ke Presiden, tidak sampai dua minggu sudah ditandatangani,” ungkap Darmin.

dok

Darmin menjelaskan, kehadiran KEK bertujuan agar investasi menyebar ke daerah. Tanpa kehadiran KEK, sulit membayangkan Belitung akan memiliki hotel mewah seperti Sheraton dan Sofitel. Terlebih lagi, Sheraton yang dibangun di KEK Tanjung Kelayang ini lebih istimewa apabila dibandingkan dengan hotel-hotel Sheraton pada umumnya di dunia, karena akan memiliki kamar yang lebih luas. Hotel tersebut akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2018, dan kemudian akan disusul pengoperasian Hotel Sofitel.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman mengatakan, kehadiran KEK Tanjung Kelayang sangat menggembirakan masyarakat Bangka Belitung. Terlebih, saat ini sudah banyak investor yang masuk ke kawasan tersebut. ”Kami pemerintah dan masyarakat Bangka Belitung akan melakukan yang terbaik bagi terwujudnya KEK Tanjung Kelayang yang bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah kami,” katanya. Menko Perekonomian juga berharap agar potensi pariwisata di KEK Tanjung Kelayang dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Darmin juga meminta para investor segera merealisasikan investasi setelah MoU ini ditandatangani.

Rencana Investasi Refinery dan Petrokimia di KEK Tanjung Api-Api

Tanjung Api Api

Jakarta, Sebagai tindak lanjut dari pertemuan dengan Dewan Nasional (DN) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada Maret 2017, PT Palembang GMA Refinery Consortium (PGRC) melakukan update progress investasi di KEK Tanjung Api-api. Keseriusan perusahaan modal asing yang bergerak di bidang migas atau lebih tepatnya pengolahan minyak bumi ini tampak dari turut hadirnya beberapa perusahaan yang menjadi mitra strategisnya, Royal Haskoning DHV, Dassault Systemes, PT Rekayasa Industri, PT Control Systems Arena Para Nusa, PT Usaha Bersama Niaga Hutama serta PT Meindo Elang Indah pada pertemuan tersebut.

KEK Tanjung Api-Api fokus pada 3 (tiga) industri utama, yaitu karet, kelapa sawit serta petrokimia. Melihat potensi besar yang dapat dikembangkan di kawasan tersebut, PT PGRC berambisi untuk membangun refinery dengan kapasitas 300.000 barrel per hari beserta industri petrokimia sebagai turunannya. Produk yang dihasilkan akan dijual di pasar domestik dan regional, dengan mengacu standar dunia.

Refinery dan petrokimia akan didesain oleh PT PGRC dengan menggunakan tenaga yang fleksibel untuk menjamin kualitas terbaik, melihat crude oil memiliki karakter yang dinamis. Dalam hal ini, PT PGRC akan mengimpor crude oil dari Iran untuk diproses di KEK Tanjung Api-Api. Bahan baku dari kawasan Timur Tengah akan dibawa langsung dengan kapal tanker raksasa setiap 6 (enam) hari. Kontrak selama 25 tahun telah dilakukan dengan pihak luar tersebut untuk menjamin suplai bahan baku KEK Tanjung Api-Api sesuai dengan kapasitas yang ditargetkan. Pada saatnya nanti, PT PGRC dapat memasarkan / membuka usaha ritel, sebagaimana disampaikan pihak Ditjen Migas Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.

Dengan beban aktivitas bahan baku dan produk yang akan sangat tinggi serta limbah B3 yang dihasilkan, maka PT PGRC akan membangun pelabuhan khusus dengan 3 (tiga) terminal, yaitu: Terminal Crude dengan pipeline sepanjang 26 km, Terminal BBM serta Terminal impor Liquefied Natural Gas (LNG).

Pekerjaan konstruksi akan dimulai pada Mei 2019 dan mereka pun mengharapkan pelaksanaan groundbreaking dapat dilaksanakan lebih cepat, tentunya didukung dengan kesiapan lahan. Saat ini tengah dilakukan review studi kelayakan dan persiapan Front End Engineering Design oleh PT JGC, perusahaan yang bergerak di bidang oil & gas yang berbasis di Yokohama Jepang. Proses licensor selection serta basic engineering ditargetkan selesai pada bulan Juni 2017.

Selain pembangunan di sektor migas, PT PGRC juga menyatakan rencana untuk membangun Kota Satelit Mandiri untuk menunjang aktivitas industri. “Kami sangat mendukung pembangunan di sekitar kawasan industri karena hal ini tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat” ungkap Enoh Suharto Pranoto, Sekretaris Dewan Nasional KEK. “Lebih baik lagi kalau ada peluang untuk menumbuhkan industri pariwisata” tambahnya. Investasi oleh PT PGRC diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi para pelaku usaha lainnya untuk berinvestasi di KEK Tanjung Api-Api (ARS)

Daya Tarik Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung Terus Meningkat Dengan Bertambahnya Jumlah Wisatawan

Jakarta,  Dalam pertemuan yang diadakan di Jakarta, PT Banten West Java (BWJ) memaparkan progress pembangunan KEK Tanjung Lesung yang merupakan KEK pariwisata yang pertama beroperasi. “Marina atau pelabuhan wisata akan menjadi landmark dari KEK Tanjung Lesung” ungkap Poernomo Siswoprasetijo, selaku Direktur Utama PT Banten West Java Tourism Development. Berbagai rencana pembangunan fasilitas pariwisata terus dilakukan untuk meningkatkan daya tarik wisatawan baik domestik maupun internasional. Oleh sebab itu, Sekretariat Dewan Nasional (DN) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mendorong proses administrasi cepat dilakukan untuk perolehan fasilitas Tax Holiday KEK Tanjung Lesung.

KEK dengan total luas wilayah sebesar 1.500 ha ini terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten. Sisa lahan sebesar 70 ha akan dibebaskan pada akhir tahun 2017. Kantor Administrator dan Pengelola yang baru dan terletak di pintu gerbang kawasan akan selesai dibangun pada pertengahan 2018. KEK yang berada 160 km dari Ibukota Jakarta dapat ditempuh dengan jalan darat melalui tol Jakarta – Merak, kemudian dilanjutkan dengan Jalan Nasional dari Serang hingga gerbang KEK.

16107120_1245789745487727_4808469349315380422_o

Gambar 1. Pesona Pantai Tanjung Lesung

Akses menjadi faktor utama pengembangan destinasi sehingga telah dilakukan uji coba operasional airstrip sepanjang 1 km yang dilakukan oleh maskapai Susi Air dan ditargetkan beroperasi pada Juni 2017. Dalam waktu dekat, sedang direncanakan penerbangan rutin dengan Susi Air melalui bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta di hari Sabtu dan Minggu. “Bandara sangat penting untuk mendatangkan wisatawan internasional, yang juga menjadi target pengembangan destinasi wisata ini. Hampir 75% wisatawan datang melalui penerbangan” ungkap Poernomo.

PLN akan membangun Gardu Induk di Tanjung Lesung, ditargetkan selesai 2018 dengan kapasitas 2 x 60 MW. Saat ini telah tersedia pasokan listrik sebesar 10 MW dan baru dimanfaatkan sebesar 1 MW. Untuk memenuhi target tersebut, PLN meminta PT BWJ sebagai Badan Usaha Pengelola untuk segera menyampaikan proyeksi kebutuhan listrik di dalam kawasan. Selain itu, perlu segera ditetapkan lokasi rencana Bandara Baru Banten Selatan di Panimbang / Sobang agar dapat dipastikan trase jaringan transmisi. Sedangkan untuk rel kereta api, konstruksi pembangunan akan dibentuk pada tahun 2018.

Dukungan infrastruktur dan fasilitas kawasan pendukung sangat penting bagi industri pariwisata, baik untuk menarik investor maupun wisatawan. Kompleks Ladda Bay Village dan Ladda Public Beach sedang dalam proses konstruksi dan akan ditargetkan beroperasi pada akhir tahun 2017. Ladda Public Beach akan menjual hasil industri kreatif masyarakat seperti batik, tas dari pandan serta kerajinan dari tanah liat. “Kalau ada industri yang ingin dibangun di KEK Tanjung Lesung, harus terkait dengan industri pariwisata” ungkap Budi Santoso selaku Wakil Ketua III Tim Pelaksana DN KEK. Dengan ini, maka KEK Tanjung Lesung dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang merupakan tujuan dari pembentukan KEK.

Kompleks Kalicaa juga sedang berada dalam tahap pengembangan dan sebagian besar sudah terjual. Kompleks ini akan menjadi kawasan pemukiman penduduk yang akan mendukung pengembangan KEK Tanjung Lesung. Homestay Kampoeng Sawah yang menawarkan penginapan dengan pemandangan sawah terbaik di kawasan ini sedang berada dalam proses pematangan lahan dan ditargetkan beroperasi tahun 2018. Kampoeng Sawah akan memberikan pengalaman unik kepada wisatawan untuk memetik padi.  Sebagian dari KEK Tanjung Lesung juga merupakan Kawasan Strategis Provinsi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menyiapkan penataan buffer zone atau zona penyangga KEK dengan berbagai fasilitas yang terbangun di dalamnya. Tahun 2017 akan dibangun Saung Apung, dermaga susur sungai, danau, promenade serta penataan kawasan pengembangan destinasi untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Setelah itu akan ada penyusunan desain kawasan, MCK dan proyek wisata, pipa komunal untuk 100 kepala keluarga, pengadaan bin sampah wisata, pengadaan kontainer di 5 (lima) desa serta pengadaan motor sampah di 5 (lima) desa.

KEK yang telah beroperasi sejak 2015 telah mengalami peningkatan kunjungan wisatawan, yaitu mencapai hampir 500.000 orang hingga tahun 2016. Kementerian dan lembaga terkait diharapkan dapat mendukung percepatan pembangunan infrastruktur KEK Tanjung Lesung yang menjadi prioritas untuk pengembangan KEK. Selain itu, infrastruktur yang memadai juga akan menarik investor untuk masuk di KEK Tanjung Lesung (ARS)

Kemajuan Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Tanjung Api-Api Sejalan Dengan Keseriusan Calon Investor

Jakarta,  “Kami ingin Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-api (TAA) dan 10 KEK lain berjalan agar segera memberi manfaat bagi masyarakat sekitar” ungkap Wahyu Utomo, Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK dalam rapat koordinasi Tim Pelaksana Pembangunan KEK TAA. Ia mengungkapkan bahwa kebijakan pemerataan ekonomi dan KEK adalah alat utk merealisasikan kesejahteraan ekonomi masyarakat.Gambar 2

Sekretariat DN KEK terus memantau perkembangan

KEK TAA dengan mengadakan pertemuan berkala

KEK TAA yang berada di Sumatera Selatan memiliki 3 (tiga) bisnis utama yaitu industri batu bara, karet dan kelapa sawit. Untuk memantau kemajuan pembangunan KEK TAA, maka diadakan pertemuan antara DN KEK dengan pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan kawasan tersebut. Adanya komunikasi yang konstruktif diharapkan dapat memecahkan permasalahan terkait dengan pembangunan KEK TAA. Rencana aksi dari pihak terkait kemudian menjadi acuan agar pembangunan KEK TAA berjalan sesuai target. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sriwijaya Mandiri Sumatera Selatan untuk dapat ditetapkan menjadi Badan Usaha Pengelola (BUP) KEK TAA. Namun, proses penetapan BUP ini masih membutuhkan proses penyertaan modal berupa aset di dalam KEK dari Pemerintah Provinsi kepada BUMD yang ditargetkan selesai Mei 2017.

BUP akan menjadi koordinator bagi pelaku usaha yang ingin berbisnis di KEK TAA dan proses kerjasama dengan investor akan terus terhambat selama belum ditetapkannya BUP KEK TAA. Namun KEK ini sangat direspon baik dengan adanya 2 (dua) calon investor besar, yaitu PT Palembang GMA Refinery Consortium (PGRC) dengan nilai investasi Rp.120 triliun serta PT Indo – Rama Synthetics dengan nilai investasi sebesar 12 triliun. Saat ini, sedang dilakukan proses pengadaan tanah seluas 150 ha dengan sertifikat Hak Pengelolaan selesai pada awal September 2017. Dengan total luas wilayah sebesar 2.030 ha, pada tahap awal akan dibangun pintu gerbang dan batas kawasan serta jalan yang ditargetkan akan selesai pada Desember 2017. Sedangkan gedung kantor administrator juga ditargetkan selesai pada Juni 2017. KEK TAA juga didukung oleh rencana pembangunan koridor Merak – Bakauheni – Bandar Lampung – Palembang – Tanjung Api-api (MBBPT).

Terkait dengan infrastruktur wilayah, KEK TAA akan memiliki 2 (dua) pelabuhan utama, yaitu Tanjung Carat dan Tanjung Api-api. Pelabuhan TAA merupakan pelabuhan eksisting dari tahun 2007 dan berseberangan dengan dermaga penyeberangan namun kedalaman lautnya hanya 4 meter. Sehingga dalam jangka pendek, akan dilakukan pengerukan terhadap Pelabuhan TAA hingga kedalaman 7 meter. Sedangkan Pelabuhan Tanjung Carat akan menjadi pelabuhan regional dengan kedalaman hingga 25 meter. Selain pengerukan pelabuhan eksisting sedalam 3 meter, terdapat pula usulan baru mengenai reklamasi Tanjung Carat.

Wahyu Utomo menekankan bahwa pembangunan KEK TAA harus mengikuti Masterplan yang diajukan ketika pengusulan KEK pada tahun 2014 untuk menentukan skala prioritas. Ia menyatakan bahwa pembangunan KEK harus tetap menjadi yang utama untuk mengejar target beroperasinya KEK TAA tahun 2017. “Pembangunan infrastruktur merupakan investasi yang besar dan harus dapat menyelesaikan persoalan banyak pihak, bukan hanya pihak tertentu” tambahnya.

Selain itu, Tanjung Carat belum dapat ditetapkan untuk menjadi bagian dari KEK TAA karena saat ini belum dilakukan reklamasi. Studi mengenai dampak lingkungan juga harus dilakukan dimana akses menuju Tanjung Carat melewati bagian dari kawasan hutan lindung. Sedangkan untuk jalur perhubungan kereta api, telah dibangun jalur double track Simpang – Tanjung Api-api sepanjang 12 km. Infrastruktur wilayah jalan tol termasuk ke dalam pembangunan Trans Sumatera yang direncanakan menghubungkan kota-kota di pulau Sumatera. Pembangunan flyover juga akan mendukung Palembang sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Pertemuan ini ditutup dengan penyusunan rencana aksi kementerian/lembaga terkait dengan pembangunan  KEK TAA yang ditandatangani oleh seluruh pihak. Untuk periode Juni 2017, target yang ditentukan adalah penetapan BUPP, pembebasan lahan dan pembentukan kerjasama dengan swasta (ARS)

 

China Top Decision Association (CTDAN) Gandeng BUMN Tiongkok Untuk Investasi di KEK Palu

Gambar 1Jakarta, Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara CTDAN dengan Walikota Kota Palu, Drs. Hidayat, M.Si pada 26 November 2016, CTDAN melakukan pertemuan dengan Sekretariat Dewan Nasional (DN) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jakarta. Dengan pertemuan ini, CTDAN yang merupakan koordinator BUMN di Tiongkok berharap untuk mendapat gambaran mengenai langkah-langkah lanjutan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan investasi di KEK Palu.KEK Palu memiliki luas lahan sebesar 1.500 ha dengan empat (4) bisnis utama, yaitu industri nikel dan besi, coklat, rumput laut serta rotan. Sekretaris DN KEK, Enoh Suharto Pranoto menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi investasi tersebut. Pada kesempatan tersebut CTDAN memaparkan rencana dan besaran investasi para pelaku usaha serta jenis industri yang akan dikembangkan di KEK Palu. Ketua CTDAN menyatakan bahwa dirinya sangat terkesan dengan KEK Palu dan mengkonfirmasi bahwa sudah ada koordinasi dengan BUMN di Tiongkok. “Posisi Kota Palu paling strategis di Indonesia dan saya akan mendorong badan usaha di Tiongkok untuk investasi di Kota Palu” ungkapnya.

Telah disiapkan pula daftar investor potensial yang tertarik untuk mengisi KEK Palu, yang terdiri atas empat (4) industri, yaitu peleburan baja, perakitan mobil, cold storage serta industri menengah. Salah satu industri menengah yaitu Huawei, sebuah perusahaan telekomunikasi terdepan di China juga tertarik untuk membuat usaha perakitan dan pembuatan telepon seluler untuk ekspor atau memenuhi kebutuhan domestik. Perusahaan yang memiliki 300 industri turunan ini diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja sebesar 300.000 orang. Tertarik dengan pengembangan Teluk Palu, Wanda Group juga sudah memiliki skema air bersih untuk Kota Palu serta telah membuat perencanaan untuk menjadikan Teluk Palu sebagai destinasi pariwisata dengan hotel dan café yang kekinian.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah perwakilan dari Sinoma Internasional Engineering, Capital Engineering & Research Corporation (CERI) serta China Gezhouba Group International Engineering (CGGC) yang memaparkan rencana bisnis mereka. Sinoma International Engineering yang dipegang oleh PT Cemindo Gemilang menyampaikan bahwa mereka akan membuat pabrik semen ramah lingkungan. Pabrik ini secara bersamaan akan mengelola sampah industri dan rumah tangga yang pada akhirnya akan dijadikan pembangkit listrik. Disampaikan pula minat mereka untuk mengelola bahan baku potensial yang ada di KEK Palu.CERI yang merupakan perusahaan BUMN China pertama di bidang metalurgi yang mulai ramah lingkungan juga memaparkan rencana bisnis mereka di sektor besi dan baja serta manufaktur. CERI juga telah melakukan kerjasama dengan PT Krakatau Steel di kawasan industri Cilegon. CGGC yang telah membangun dam terbesar di dunia, tepatnya di Sungai Yangtze fokus untuk pembangunan infrastruktur kawasan, seperti jembatan, pembangkit listrik dan pelebaran dermaga. Mereka juga punya minat investasi langsung untuk pembangunan PLTA, PLTU dan pengelolaan sampah.

Pemaparan rencana bisnis ketiga BUMN TIongkok tersebut mendapatkan respon positif dari Asisten Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Palu yang mewakili Walikota Palu selaku Pengusul KEK Palu. Ia menyatakan komitmennya untuk memberi dukungan agar calon investor dapat segera merealisasikan investasi di KEK dan Kota Palu. Prinsip CTDAN untuk menciptakan KEK Palu yang hijau dan berkelanjutan menjadi nilai tambah bagi pembangunan dan pengembangan kawasan tersebut.Wakil Ketua III Tim Pelaksana DN KEK, Budi Santoso, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan dukungannya kepada CTDAN untuk investasi di KEK Palu. “Saya gembira melihat antusiasme CTDAN untuk mendukung investasi di KEK Palu. Kami akan bantu fasilitasi tahapan prosesnya dengan pihak-pihak yang terkait” ungkapnya. PT Bangun Palu Sulteng yang merupakan Badan Usaha Pengelola KEK Palu juga turut hadir dan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi masalah pembebasan lahan.Tindak lanjut dari pertemuan ini adalah DN KEK akan memfasilitasi CTDAN dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mempercepat proses investasi CTDAN di KEK Palu. Kemudahan perizinan dan keuntungan fiskal telah menjadi daya tarik investasi di KEK. Selain itu, CTDAN juga berharap DN KEK dapat menjadi wadah informasi serta memediasi pertemuan dengan badan/lembaga terkait perihal rencana bisnis mereka. (ARS)

Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus & Kamar Dagang dan Industri Jajaki Kerjasama Investasi

Untitled-2Jakarta, 13 Maret 2017 – “Cita-cita besar kami adalah membentuk kerjasama antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri”ungkap Enoh Suharto Pranoto, Sekretaris Dewan Nasional (DN) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam pembukaan pertemuan antara DN KEK dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di Jakarta. Sebagai pembukaan dibahas mengenai ruang lingkup kerjasama antara kedua belah pihak lalu bentuk kerjasama tersebut khususnya dalam rangka promosi dan publikasi KEK kepada para pengusaha atau investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Kalau para pengusaha itu paham betul mengenai KEK, pasti banyak yang berminat untuk investasi, karena iklim investasi di Indonesia sangat baik” ungkap Budi Santoso, Wakil Ketua II Tim Pelaksana DN KEK dengan yakin. “Kami ingin para pengusaha di Indonesia mengambil keuntungan dengan adanya KEK karena pemerintah sudah memberikan insentif dan sayang kalau tidak dimanfaatkan, daripada menarik investor dari luar” tegasnya kemudian.

Pertemuan yang dihadiri oleh Sekretariat DN KEK dan beberapa perwakilan dari KADIN tersebut membahas pokok-pokok kerjasama antara kedua belah pihak, mulai dari tujuan, ruang lingkup, tanggung jawab bersama hingga pelaksanaan untuk kemudian ditindaklanjuti kembali kedepannya. Sanny Iskandar, selaku Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengembangan Kawasan Ekonomi dan Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) memberikan dukungan penuh untuk membangun KEK dan menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama.

Organisasi yang memiliki Undang-Undang sebagai payung ini seringkali menjadi mitra pemerintah dan dilibatkan dalam pembuatan regulasi industri. Dalam pertemuan ini juga diungkapkan berbagai gagasan yang diharapkan dapat diimplementasikan kedepannya, seperti pembentukan asosiasi regional KEK di ASEAN dan sosialisasi dengan kamar dagang negara-negara lain yang ada di Indonesia. Adanya pertemuan atau event rutin juga diharapkan dapat menjadi instrumen bagi promosi dan pengembangan KEK.

Tindak lanjut dari pertemuan ini adalah pengolahan kembali pokok-pokok kerjasama antara kedua belah pihak sehingga dapat dicapai persetujuan bersama untuk kemudian dapat diimplementasikan kedepannya. Diharapkan dengan adanya kerjasama ini dapat mendorong terbangunnya kelembagaan untuk meningkatkan dinamika investasi dan daya saing di KEK Indonesia (ARS)

 

Debottlenecking Infrastruktur KEK Sei Mangkei

Untitled-1Jakarta, 10 Maret 2017 – “KEK Sei Mangkei merupakan KEK pertama yang beroperasi dan unggul dibandingkan KEK lainnya” ungkap Wahyu Utomo, Deputi Bidang Koordinasi Percepatan infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Menko Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, dalam pembukaan rapat pemantauan kemajuan pembangunan dan pengelolaan KEK Sei Mangkei. Optimisme ini kemudian diikuti dengan harapan bahwa KEK ini dapat menjadi contoh bagi 10 KEK lainnya di Indonesia. Pertemuan yang dilaksanakan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, dihadiri oleh Arie Yuwirin selaku Direktur Jenderal Pengadaan Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang; Enoh Suharto Pranoto selaku Sekretaris Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus; Bambang Priono, Kepala Kantor Wilayah BPN Sumatera Utara; dan perwakilan dari Kementerian Perhubungan; Kementerian Keuangan; Kementerian PUPR; Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Administrator KEK Sei Mangkei; serta PTPN III dan PT Pelindo I.KEK Sei Mangkei telah resmi beroperasi pada 27 Januari 2015 dengan industri pengolahan kelapa sawit dan industri pengolahan karet sebagai kegiatan utama. Investor pioneer di kawasan ini merupakan PT Unilever Oliochemical Indonesia (UOI) yang memproduksi turunan kelapa sawit, seperti soap noodles, fatty acid, surfactant dan glycerin dengan nilai investasi sebesar Rp 2 triliun.  Selain PT UOI, terdapat PTPN III, PT PLN (Persero) yang telah beroperasi. Sedangkan PT Industri Nabati Lestari sedang dalam tahap konstruksi pabrik, dengan nilai investasi Rp 1 triliun. Untuk meningkatkan kinerja KEK Sei Mangkei dalam menarik foreign direct investment, dibutuhkan dukungan infrastruktur, baik dalam kawasan maupun wilayah yang memadai, sehingga dapat menciptakan pusat kegiatan ekonomi baru di wilayah ini.

Infrastruktur wilayah pertama yang dibahas dalam pertemuan ini adalah rel kereta api yang dibangun untuk mendukung akses dari Bandar Tinggi sampai Kuala Tanjung. Rel kereta api sepanjang 21,5 km akan ditargetkan beroperasi pada akhir 2017 namun penyelesaian persinyalan baru akan selesai pada 2018. Sedangkan progress pembangunan Pelabuhan Multipurpose Kuala Tanjung sudah mencapai 70% dan akan ditargetkan beroperasi tahun ini. Pembuangan limbah juga menjadi isu dalam KEK ini. Perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan bahwa akan ada konsorsium BUMN yang khusus dibentuk untuk mengelola limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Saat ini tengah dilakukan evaluasi penentuan lokasi pembuangan pada 3 (tiga) alternatif lokasi, yaitu beberapa area di Riau, serta kawasan di sekitar Medan dan Inalum (Kuala Tanjung). MoU antar konsorsium sudah dilakukan pada awal Maret dan lokasi akan diputuskan pada minggu ke-2 April.

PTPN III sebagai pengusul dan pengelola KEK Sei Mangkei menyatakan bahwa daya tarik kawasan sangat besar bagi pelaku usaha (tenant), namun kendala utama terletak pada tarif gas yang cukup tinggi. Harga gas yang mencapai USD 10,75/MMBtu memberatkan para pelaku usaha di kawasan tersebut dan mereka mengharapkan adanya penyamarataan harga gas seperti di kawasan Belawan yaitu USD 9.95/MMBtu. Perbedaan harga yang cukup signifikan antara kedua kawasan yang masih berada di provinsi yang sama tersebut disebabkan oleh adanya toll fee dalam distribusi gas yang harus ditanggung pelaku usaha. Selain harga gas, belum selesainya pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung dan Jalur Kereta Api Sei Mangkei – Kuala Tanjung juga menjadi kendala bagi investasi di kawasan ini. Dari hasil pembahasan ini dihasilkan beberapa kesepakatan yang dituangkan dalam rencana aksi. Fokus utama meliputi percepatan operasionalisasi infrastruktur kawasan, percepatan penyediaan infrastruktur wilayah (pelabuhan, jalur kereta api, dan jalan nasional), dan penurunan harga gas. Diharapkan komitmen berbagai pihak terkait dapat mengakselerasi pembangunan kawasan KEK Sei Mangkei (ARS)

 

Global Green Growth Institute (GGGI) dan Dewan Nasional KEK Kerja Sama Untuk Lakukan Green Growth Assessment Di KEK Sei Mangkei

Global Green Growth Institute (GGGI) dan Dewan Nasional KEK Kerja Sama

Jakarta, 2 Maret 2017 – Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan Global Green Growth Institute (GGGI) telah melakukan kerja sama sejak tahun 2015. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan pada 2016 dan 2017 adalah Technical Assessment of Green Growth Policy Options and Investment Opportunities in Special Economic Zones (SEZ) Indonesia yang dilakukan dengan lokus KEK Sei Mangkei.


Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Sekretaris Dewan Nasional KEK, Wakil Ketua III Tim Pelaksana dan perwakilan GGGI, dipaparkan beberapa rencana kegiatan kerja sama yang akan dikembangkan, antara lain Green SEZ Guidelines yang dikembangkan untuk dapat diaplikasikan ke dalam KEK Indonesia. Instrumen kebijakan yang akan diterapkan di tingkat nasional ini diharapkan dapat mengurangi manajemen resiko dan menghasilkan investasi yang lebih baik, dan proyek infrastruktur hijau di satu KEK atau lebih didesain agar lebih layak secara finansial.

 

Sei Mangkei adalah KEK pertama yang sudah beroperasi dan memiliki 2 kegiatan utama, yaitu industri yang berbasis kelapa sawit dan karet. Terdapat empat aspek yang direncanakan akan diintervensi oleh GGGI, yaitu pembangkit listrik, pengolahan limbah, rel kereta api dan pengelolaan perkebunan. Dengan adanya intervensi GGGI maka diharapkan akan meningkatkan produktivitas industri yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan ekologi.


“Diperlukan rekomendasi umum untuk KEK hijau yang dapat diadopsi bagi seluruh kawasan” tanggap Budi Santoso, Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK. Ia menyatakan betapa krusialnya isu limbah bagi Indonesia karena pencemaran di satu kawasan memberi dampak bagi kawasan lain. Selain itu, limbah juga telah menjadi faktor yang paling menarik dari perusahaan oleochemical.


“Lokasi pembuangan sangat terkait dengan spatial planning. Demand datang dari kawasan di luar KEK, oleh sebab itu rencana pengolahan limbah juga harus melibatkan kawasan lain seperti Aceh, Riau dan sebagainya” kata Enoh Suharto Pranoto, Sekretaris Dewan Nasional KEK. Pengolahan limbah yang berbahaya telah menjadi beban untuk Indonesia, oleh sebab itu diperlukan manajemen pengolahan limbah yang efisien dan ramah bagi investor.


Pembangkit listrik juga menjadi aspek penting dalam KEK Sei Mangkei mengingat bertambahnya jumlah tenant juga akan meningkatkan kebutuhan energi listrik di kawasan tersebut. “Listrik sebesar 250 MW akan menjadi kritis pada tahun 2020 nanti, oleh sebab itu dibutuhkan perencanaan penyediaan energi yang berkelanjutan” kata Edib Muslim, Tenaga Ahli Sekretariat Dewan Nasional. Ia juga mengingatkan pentingnya konstruksi sosial dalam penerapan KEK hijau di Sei Mangkei.


Langkah lanjut dari pertemuan ini adalah diadakannya Focus Group Discussion (FGD) dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan di Sei Mangkei, Medan. Diharapkan rekomendasi dan usulan proyek dari GGGI akan menciptakan iklim investasi yang lebih baik serta mendukung terciptanya KEK hijau di Indonesia (ARS)