|   Media  |  

2020, Investasi di KEK Galang Batang Capai Rp 17 Triliun

Jumat, 23 Agustus 2019 | 21:05
blog post

Direktur Utama PT. Bintan Alumina Indonesia (PT. BAI), Santoni mengatakan investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau akan mencapai Rp 15 triliun hingga Rp 17 triliun pada akhir tahun 2020. Sebab, pada Desember tahun 2020 ditargetkan pabrik alumina refinery sudah mulai produksi.

”Hingga Agustus ini, PT. BAI telah merealisasikan investasi Rp 5 triliun,” kata Santoni pada Rapat Koordinasi Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK yang dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Kemenko Ekonomi, Wahyu Utomo di Hotel Aryaduta Jakarta, Jumat, 23 Agustus 2019. Rapat koordinasi ini membahas perkembangan KEK Mandalika, KEK Tanjung Kelayang, KEK Galang Batang dan KEK Sei Mangkei, dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait.

Realisasi investasi Rp 5 triliun itu digunakan untuk membangun pabrik alumina refinery yang saat ini telah selesai pembangunan pondasi dan struktur dasar, gas plant yang telah selesai pembangunan pondasi dan struktur dasar, pelabuhan dengan dermaga serbaguna 2x35.000 Dwt dan dermaga tongkang 4x10.000 Dwt yang pembangunannya sudah mencapai 95 persen, serta infrastruktur dasar kawasan.

Realisasi investasi itulah yang akan meningkat drastis menjadi Rp 15 triliun hingga Rp 17 triliun pada akhir tahun 2020, dengan target pada Desember tahun 2020 pabrik sudah mulai produksi.

”Kami bekerja keras mengejar target produksi di akhir tahun 2020. Karena itu kami meminta dukungan pemerintah agar semua bisa sesuai jadwal. Target ini tidak mudah dicapai tanpa dukungan semua pihak,” kata Santoni. Dia melanjutkan, pada triwulan I tahun 2021, PT. BAI menargetkan sudah bisa ekspor alumina 1 juta ton dengan devisa yang tercipta USD 350 juta.

Seperti diketahui, KEK Galang Batang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2017 dengan target nilai investasi Rp 36,25 triliun selama 5 tahun, dan mampu menyerap tenaga kerja 23.200 orang. PT. Bintan Alumina Indonesia merupakan perusahaan pembangun dan pengelola KEK Galang Batang.

Santoni menjelaskan, hingga saat ini pihaknya telah menguasai lahan seluas 1.750 hektare dari target 2.333 hektare. Lahan seluas itu untuk membangun pengolahan dan pemurnian bijih bauksit (refining) menjadi alumina berkapasitas 2 juta ton per tahun, pengolahan alumina menjadi aluminium ingot (smelting) berkapasitas 1 juta ton per tahun, pengembangan PLTU, dan pengembangan pelabuhan bongkar muat.

”Untuk mendukung operasional pabrik-pabrik pengolahan alumina ini, secara bertahap hingga tahap tiga nanti kami akan membangun PLTU 2.000 MW. Semua dana investasi dari PT. BAI sendiri,” kata Santoni. 

Pengembangan KEK Galang Batang dilakukan secara bertahap dalam 3 tahapan pembangunan. Tahap I, jangka waktu 2016-2020 merupakan tahapan persiapan kawasan secara menyeluruh menjadi kawasan basis industri dengan menyusun organisasi pelaksana dan pengelolaan kawasan, penyiapan kerja sama dan kemitraan, pembangunan industri pengolahan, peningkatan infrastruktur dan logistik, dan hal lain yang diperlukan. 

Tahap II, jangka waktu 2020-2026 diarahkan kepada pengembangan kaveling industri turunan refinery dan smelter alumina, antara lain industri manufaktur, industri otomotif, dan industri lain berbasis alumina, serta fasilitas pendukung lain. Tahap III, jangka waktu 2026-2030 merupakan tahap akhir dari pengembangan Kawasan yang diarahkan untuk melengkapi seluruh fasilitas yang diperlukan sesuai dengan master plan.

Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Kemenko Ekonomi, Wahyu Utomo mengapresiasi perusahaan pembangun dan pengelola KEK Galang Batang yang serius membangun industri pengolahan dan pemurnian bijih bauksit menjadi alumina, hingga pengolahan alumina menjadi aluminium ingot dengan investasi yang tidak sedikit.

Dia menegaskan pemerintah memberi dukungan penuh terhadap kelancaran pembangunan dan investasi di KEK Galang Batang yang memberi dampak ekonomi signifikan terhadap daerah dan juga nasional. ”Misalnya tadi ada persoalan sertifikasi lahan dan proses perizinan, kita akan bantu koordinasikan dengan instansi terkait supaya semua berjalan lancar,” kata Wahyu Utomo. (*)