|   Media  |  

Ketahanan Menghadapi Kebencanaan Mutlak Untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

Rabu, 27 Februari 2019 | 11:00
blog post

Hal ini dikemukakan oleh Wahyu Utomo, Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK. Dalam hal kebencanaan di Indonesia, penanggulangan resiko bencana sangat terkait dengan upaya mengurangi risiko dan kerentanan, serta meningkatkan ketangguhan dalam mencegah, memitigasi, dan memulihkan. Ketahanan nasional atas ancaman alam harus menjadi elemen inti kebijakan pembangunan.

Garis Depan Ketahanan atas Bencana

Sebagai instrument kebijakan nasional, sudah pada tempatnya apabila KEK diposisikan sebagai bagian modalitas garis depan ketahanan nasional terhadap ancaman alam. Kawasan Ekonomi Khusus sebagian besar berada pada daerah rawan bencana, hal ini merupakan tantangan tersendiri dalam melakukan upaya-upaya penanganan kebencanaan. “Kawasan Ekonomi Khusus diharapkan dapat menjadi motor penggerak untuk pencegahan, mitigasi, rehabilitasi, rekonstruksi, dan pemulihan integritas wilayah”, Ujar Wahyu Utomo dalam workshop mitigasi bencana yang diadakan Dewan Kawasan Ekonomi Khusus,.

Indonesia Cincin Api Dunia

Pada dasarnya, Indonesia hampir seluruh wilayahnya adalah wilayah rawan bencana karena terletak pada cincin api yang  rawan terkena bencana alam, seperti gempa,  letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, putting beliung, dan sebagainya. Dalam kurun waktu 2018 saja, 3 gempa besar terjadi di wilayah yang terdapat Kawasan Ekonomi Khusus, yaitu : Gempa Lombok pada 29 Juli 2018 yang berdampak pada KEK Mandalika, Gempa Palu yang terjadi pada 28 September 2018 yang berdampak pada KEK Palu, dan yang terakhir adalah Gempa Selat Sunda pada 22 Desember 2018 yang berdampak pada KEK Tanjung Lesung. Enoh Suharto Pranoto, Sekretaris Dewan Nasional KAwasan Ekonomi Khsus menambahkan, “untuk mengamankan dan meminimalkan dampak terjadinya bencana di KEK, sehingga diharapkan KEK tetap mampu berperan optimal dalam pencapaian tujuan-tujuannya walaupun bencana terjadi, maka Workshop ini dimaksudkan sebagai brainstorming awal untuk penyusunan management bencana di KEK.”

Manajemen Kebencanaan dan Rasa Aman Investasi 

Hal menarik yang perlu disoroti salah satunya adalah jika ingin mendatangkan investor, kita harus mampu meyakinkan bahwa situasi aman dan nyaman. Mitigasi ada yang struktural, itu penting karena ada perasaan aman pada investor bahwa Indonesia sudah siap jika ada investasi.

Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengungkapkan bawa kita harus memberikan keyakinan untuk para investor di KEK.

Kepala Bidang Informasi Gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menekankan perlunya pemikiran untuk mengubah tantangan menjadi peluang diantaranya dengan memberikan sertifikasi hotel kesiapan bencana kerjasama BPBD, BMKG, dan instansi lainnya dengan tujuan untuk memberikan penilaian sekaligus pembinaan dalam membangun kesiapsiagaan bencana kepada sektor-sektor seperti pariwisata, bisnis perhotelan dan sektor jasa lainnya.

Langkah awal ketahanan kebencanaan

Enoh Suharto Pranoto menambahkan, Hasil dari sesi diskusi ini selanjutnya akan dirumuskan oleh tim untuk menyusun suatu pedoman manajemen bencana di KEK. Dalam penyusunan pedoman tersebut selanjutnya juga akan dilaksan akan serangkaian FGD dengan topik-topik yang lebih spesifik untuk penyempurnaannya. Diharapkan pedoman ini nantinya dapat diimplementasikan oleh seluruh stakeholder KEK untuk meminimalkan dampak terjadinya bencana di KEK dan agar KEK tetapdapat berperan optimal pada saat terjadinya bencana.

“forum ini kami harapkan dapat menghasilkan pemikiran untuk menjadikan KEK sebagai komponen membangun ketahanan wilayah terhadap ancaman alam dan mewujudkan KEK yang  berdaya tahan terhadap ancaman alam”. Pungkas Wahyu Utomo

Acara workshop mitigasi bencana diadakan pada tanggal 24 Januari 2019 di Hotel Grand Mercure ini menghadirkan lima narasumber, yaitu Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan tema Tema Kebijakan dan Mitigasi Bencana Vulkanologi dan Geologi; Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan tema Tema Standar Mitigasi Kebencanaan; Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Badan Pengkajian dan PenerapanTeknologi dengan tema pengembangan teknologi di bidang mitigasi bencana; dan kepala bidang informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami mewakili Deputi Bidang Geofisika, Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan tema Tema Peta Bencana di Indonesia dan Early Warning System.