|   Media  |  

KEK Berpartisipasi dalam Trade Expo yang Dibuka Jokowi

Rabu, 24 Oktober 2018 | 14:53
blog post

Sekretariat Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-33 di ICE BSD, Banten yang berlangsung 24-28 Oktober 2018. Trade Expo ini dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo yang didampingi oleh Menko Ekonomi Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Gubernur Banten Wahidin Halim.

Sekretariat Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus bersama perwakilan KEK dari seluruh Indonesia mendirikan stan di Hall 5.

”Dengan keterlibatan di Trade Expo ini, kami ingin menyampaikan informasi kepada masyarakat khususnya investor bahwa KEK berjalan dengan baik,” kata Sekretaris Dewan Nasional KEK, Enoh Suharto Pranoto di ICE BSD City, Rabu (24/10).

Beberapa KEK, lanjut Enoh, ada progresnya yang sangat baik terkait masuknya investasi baru, seperti Sei Mangkei, Arun Lhokseumawe, Sorong dan Tanjung Lesung. Bahkan KEK Mandalika di Lombok sudah hampir habis lahannya karena banyak investor yang masuk ke sana.

Sementara itu, pada acara pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-33, Presiden Joko Widodo meminta kepada Kementerian Perdagangan dan para duta besar Indonesia di negara-negara non tradisional untuk memacu ekspor nasional supaya neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan tidak lagi defisit.

”Kita memiliki masalah yang sudah bertahun-tahun tidak bisa diselesaikan, yaitu neraca perdagangan, CAD," kata Jokowi. Presiden menyebut, current account deficit (CAD/defisit transaksi berjalan) Indonesia tercatat US$ 17,3 miliar pada tahun 2017. Angka yang besar ini harus segera diperbaiki dengan cara mendorong ekspor.

”Neraca perdagangan kita harus kita perbaiki dengan cara apa, ya ekspor harus lebih besar dari impor. Sekarang ini impor lebih besar dari ekspor, ya makanya defisit terus,” ujar Jokowi.

Meski sepanjang tahun 2018 neraca perdagangan Indonesia masih deficit, Jokowi menilai di September 2018 terdapat titik cerah untuk membenahi neraca perdagangan. Pasalnya, September 2018 terjadi surplus sekitar US$ 220 juta.

"Saya menghargai usaha keras untuk masuk ke pasar ekspor terutama negara non tradisional, dan alhamdulillah September kemarin ada titik terang, neraca dagang kita mulai surplus US$ 220 juta, masih kecil tapi sudah surplus," jelas dia. (*)