|   Media  |  

Kawasan Ekonomi Khusus: Tinta Kemerdekaan dari Pinggiran

Kamis, 10 Agustus 2017 | 16:05
blog post

Jakarta,Tujuh puluh dua tahun Indonesia telah merdeka dan berbagai langkah pembangunan terus dilakukan. Kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) memiliki lingkup yang luas dan jangka panjang serta menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani kesenjangan dan meningkatkan daya saing nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution selaku Ketua Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) gembira melihat pesatnya perkembangan KEK. Aliran investasi terus masuk ke KEK. Hal itu disampaikan Darmin Nasution pada acara “Kawasan Ekonomi Khusus: Tinta Kemerdekaan dari Pinggiran” yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa, 1 Agustus 2017. Acara ini digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-72 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-51 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Kegiatan tersebut memanfaatkan momen HUT ke 72 proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagai momen instropeksi dan penggugah semangat stakeholders KEK di berbagai lini dan tingkatan. Tak lain agar, kita semua mengisi kemerdekaan melalui pembangunan KEK yang berdaya dan berhasil guna, membangun manfaat bagi generasi kini dan generasi ke depan. “Tinta Kemerdekaan dari Pinggiran” dihadiri oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, para pejabat pusat dan daerah, investor dan pengelola KEK.

Dalam kesempatan itu dilakukan beberapa penandatanganan kerjasama. Perjanjian Kerjasama Pertama adalah pra Joint Venture untuk membangun dan mengelola kawasan antara Direktur Utama PT Bangun Palu Sulteng (BPST) Andi Mulhanan dengan Direktur Utama PT STM Tunggal Jaya, Kim Sung Hyun. Selain itu BPST juga melaksanakan penandatanganan kerjasama (MoU) dalam penyediaan dan pengelolaan air baku dengan perusahaan Cheongsu Engineering (Korsel) senilai Rp 500 M.

Kerjasama ini dilakukan dalam rangka membangun dan mengelola KEK Palu dengan perkiraan nilai investasi sebesar USD 578 juta. KEK Palu yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2014 juga telah mendatangkan beberapa investor yang diperkirakan siap beroperasi komersial tahun ini, yakni PT Asbuton Jaya Abadi (Aspal), Hong Thai Int. (minyak terpentin sebagai pelarut dan bahan farmasi) dan PT Sofi Agro (pengolahan kelapa dan minyak kelapa).

Selanjutnya adalah Penandatanganan Land Use and Development Agreement (LUDA) antara Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer dengan Direktur Utama PT Mosaique Jiva One Sky, Ilyas Bhat. Kerjasama ini dilakukan untuk membangun 355 kamar hotel bintang dan kondominium hotel, dengan nilai investasi USD 25 juta di KEK Mandalika. Hadir pula dalam kesempatan ini beberapa investor yang saat ini sedang melakukan pembangunan di KEK Mandalika, yaitu PT Lees Internasional Development (Hotel Royal Tulip), PT Air Indonesia Amerika (SWRO), PT Resort Indonesia Amerika (Hotel Westin), dan ITDC sendiri yang membangun Hotel Pullman dan Clubmed sebagai bentuk komitmen dalam pembangunan KEK Mandalika).

Darmin Nasution menegaskan, keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan melalui investasi harus disambut gembira. Dia mengingatkan, program strategis pemerintah Indonesia (RPJMN 2015-2019) adalah meningkatkan aksesibilitas infrastruktur bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, yang tentu saja sangat membutuhkan keterlibatan investor.

Dalam upaya pemerataan ekonomi, Pemerintah mendorong pusat pertumbuhan ekonomi melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tiga agenda utama KEK adalah percepatan pembangunan (terutama di luar Jawa), pengurangan kesenjangan (intra dan inter wilayah), dan daya saing ekonomi melalui nilai tambah dan rantai nilai atas bahan mentah/sumber daya alam nasional). Total sasaran investasi di KEK sampai dengan 2030 sebesar Rp 726 triliun, dengan sasaran penyerapan tenaga kerja 632.583 orang. Komitmen investasi hingga 30 Juni 2017 sebesar Rp 221 triliun.

Beberapa investor besar berskala internasional yang masuk ke KEK diantaranya adalah PT Unilever Oleochemical Indonesia dengan nilai investasi Rp 2 triliun, PT Industri Nabati Lestari (INL) investasi Rp 1 triliun, ProCone GmbH investasi Rp 8 triliun, Alternatif Protein Indonesia Rp 5,2 triliun, PT Perusahaan Resort Indonesia Amerika (Paramount Hotel) Rp 1 triliun, ITDC Properti Club Med Hotel Rp 1 triliun, dan Sirkuit MotoGP Rp 6 triliun.

Darmin meminta agar semua stakeholder terus bekerja keras membangun KEK berdaya saing dan berkelanjutan. ”Kita perlu belajar bagaimana mancanegara membangun kawasan-kawasan kelas dunia mereka melalui karakter dan positioning tertentu untuk memperkuat posisi dan eksistensinya melalui branding strategy,” katanya. Darmin menegaskan, positioning dan branding sangat penting di pasar investasi yang semakin kompetitif. Diperlukan terobosan pembentukan karakter dari KEK itu sendiri, agar mampu memposisikan dirinya secara tepat dan optimal terhadap pasar.

Sejak tahun 2012, telah ditetapkan 11 wilayah KEK. “KEK tentu satu diantara kebijakan-kebijakan pemerintah yang merupakan kebijakan strategis untuk mendorong pertumbuhan pemerataan antar daerah,” ungkap Darmin. Dari sebelas KEK itu, 7 diantaranya bertema manufaktur, dan 4 lainnya. kepariwisataan.  Dua diantaranya, KEK Sei Mangkei (industri, 2015) dan KEK Tanjung Lesung (kepariwisataan, 2015) telah beroperasi. Lebih lanjut Menko Perekonomian menjelaskan, ada beberapa KEK yang akan dibahas dalam rapat Dewan Nasional awal Agustus ini. Targetnya menentukan KEK yang dapat dioperasikan pada tahun 2017.

Ada tiga KEK yang akan dibahas secara khusus dalam Sidang Dewan Nasional itu, yaitu KEK Mandalika, KEK Palu dan KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan. Sedangkan tiga KEK lain yang seyogyanya dapat beroperasi pada tahun 2017 ini, yaitu KEK Bitung, KEK Morotai, KEK Tanjung Api api, masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan pembangunan kawasannya. Tiga KEK lain, yaitu KEK Tanjung Kelayang, KEK Sorong, dan KEK  Lhokseumawe memang masih relatif baru ditetapkan dan masih berada dalam tahapan pembangunan.

Sekretaris Dewan Nasional KEK, Enoh Suharto Pranoto, menambahkan bahwa pemerintah terus membuka dan memberikan berbagai  kemudahan dan fasilitas fiskal maupun non fiskal bagi investasi di Indonesia, khususnya di KEK. Diantaranya pemberian tax holiday yang lebih menarik sampai 25 tahun, tidak diberlakukan DNI (kecuali yang tertutup dan dicadangkan untuk UMKM). Di bidang pertanahan, perpanjangan HGB dapat dilakukan segera setelah aktifitas produksi beroperasi komersial. Demikian pula, Kemudahan Layanan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK) dan lainnya. Izin usaha di KEK dilayani satu pintu melalui Administrator KEK. “Semua perijinan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan kabupaten kota dilimpahkan kepada Administrator KEK” jelas Enoh. Enoh menambahkan bahwa, pemerintah mendukung KEK dengan  penyempurnaan dan penyediaan berbagai infrastruktur wilayah, seperti hanya konektifitas logistik (pelabuhan, jalan, jalur kereta api, listrik, gas).

Dalam acara tersebut, Sakti Makki yang juga co founders dari perusahaan nasional MakkiMakki Branding Consultant juga menyampaikan pencerahan awal tentang manfaat positioning dan branding bagi Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia. Tema yang diangkat adalah “Building SEZ, brand to inspire the world,” dimana ekuitas merek (destinasi) merupakan kunci untuk menarik investasi dan meningkatkan daya saing. Positioning dan branding yang tepat dapat membentuk reputasi KEK yang sesuai di mata konsumen, pelaku usaha, pemerintah, publik serta investor.

Untuk menutup acara tersebut, para pegawai Sekretariat Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus mempersembahkan rangkaian penampilan tarian, lagu serta puisi yang mewakili sebelas provinsi KEK dengan judul “Sebelas Titian dari Pinggiran”. Dimulai dari KEK Aceh hingga KEK Sorong, 18 orang (14 perempuan dan 4 laki-laki) tampil dengan kostum masing-masing daerah dengan penuh semangat. Kreativitas para pegawai diwujudkan dalam koreografi karya Miranti Anindytha yang menarik, atraktif dan mampu menyajikan pesan yang mendalam kepada para stakeholders KEK Indonesia (ARS).